KARAKTERISTIK CONTEKSTUAL (CTL)

Karakteristik pembelajaran kontekstual Menurut Atik Wintarti (2008:25) bahwa ada beberapa karakteristik pembelajaran berbasis kontekstual, yaitu:

  1. Adanya kerja sama, sharing dengan teman dan saling menunjang
  2. Siswa aktif dan kritis, belajar dengan bergairah, menyenangkan dan tidak membosankan, serta guru kreatif
  3. Pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber
  4. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa  misalnya: peta, gambar, diagaram, dll.
  5. Laporan kepada orang tua bukan sekedar rapor akan tetapi hasil karya siswa, laporan praktikum.

Untuk memahami pembelajaran kontekstual maka ada kata kunci dalam pembelajaran kontekstual yaitu:

  1. Real world learning, mengutamakan pengalaman nyata
  2. Berpusat pada siswa, siswa aktif, kritis, dan kreatif serta siswa „akting‟ guru mengarahkan
  3. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan, dekat dengan kehidupan nyata, serta adanya perubahan perilaku dan pembentukan „manusia‟
  4. Siswa praktek, bukan menghafal, Learning bukan Teaching, pendidikan bukan pengajaran
  5. Memecahkan masalah dan berpikir tingkat tinggi
  6. Hasil belajar di ukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.

Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL  seperti dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. (2005:110), sebagai berikut:

  1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activtinging knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
  2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya
  3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
  5.  Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan atau penyempurnaan strategi

Contoh Penerapan Kontekstual dalam Materi Bangun Datar

Posted on January 19, 2013, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: